Monday , November 20 2017
Home / Uncategorized / Dimensi Sosial Shalat

Dimensi Sosial Shalat

Banda Aceh, (27/4-2017). Shalat adalah ibadah utama dalam dinul Islam. Ibadah ini wajib dikerjakan setiap muslim yang baligh dalam kondisi apapun. Dalam keadaaan sehat dan sakit, damai dan perang, kondisi normal dan darurat. Shalat pula yang membedakan muslim dengan non muslim. Shalat ibadah pertama dihishab di yaumil akhir. Shalat adalah ibadah pribadi yang juga berdimensi sosial.
Dalam hai ini, Allah SWT berfirman: “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Ankabuut:45)
Ayat di atas mengisyaratkan, salah satu pencapaian kewajiban shalat bahwa pelakunya tercegah dari kemungkinan berbuat kemungkaran. Ini mengindikasikan, bahwa shalat merupakan salah satu rukun Islam yang mendasaar dan pijakan utama dalam mewujudkan sistem sosial Islam. Jika seorang tidak melaksanakan shalat, disamping sebagai tanda-tanda kemunafikan, dalam skala besar merupakan tahapan awal kehancuran komunitas muslim.
Menurut Nabil Abdurrahman seperti disiarkan www.eramuslim.com, secara empirik shalat merupakan faktor utama dalam proses penyatuan dan pembangunan kembali kekuatan masyarakat Islam, yang sebelumnya rusak dan terpencar-pencar sebagai akibat lalai mendirikan shalat.
Kekokohan sendi-sendi sosial masyarakat Islam sangat tergantung kepada sejauh mana mereka menegakkan shalat yang sebenar-benarnya. Apabila hal ini tidak menjadi prioritas utama, maka kekeroposan sendi-sendi sosial kemasyarakatan akan menghinggapinya, yang berlanjut kepada kehancuran ummat Islam itu sendiri.
Shalat yang diakhiri dengan salam, mengindikasikan bahwa setelah seorang hamba melakukan hubungan (komunikasi) yang baik dengan Allah, maka diharapkan hubungan yang baik tersebut juga berdampak pada hubungan efektif sesama manusia. Dengan kata lain, jika seorang hamba dengan penuh kekhusyu’an dan kesungguhan menghayati kehadiran Allah SWT  pada waktu shalat, maka diharapkan penghayatan akan kehadiran Rabb itu berdampak positif pada tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Karena itu, saatnya kita memperkuat dimensi sosial ibadah shalat dengan cara meningkatkan komunikasi dan silaturrahim antar jamaah, memperkuat program pelayanan jamaah (yang fakir dan miskin) dan memprioritaskan pendayagunaan zakat, infaq dan sedekah (ZIS) dari jamaah untuk penguatan ekonomi masyarakat Islam. Sudah seharusnya shalat sebagai ibadah pribadi kita lanjutkan dengan ibadah sosial. (Sayed Muhammad Husen)

Check Also

Puasa dibelahan dunia

Banda Aceh – Selama bulan Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa, satu ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *