
Oleh Irfan M. Nur (BaiturrahmanFM.com) – Beberapa hari yang lalu, saya berbincang santai di warung kopi dengan Kamaroezzaman mengenai buku terjemahan The Suma Oriental of Tomé Pires oleh Armando Z. Cortesão, yang muncul di beranda Facebook.
Kamaroezzaman memposting buku tersebut untuk dijual, dan dari perbincangan itu, sampailah kami pada pembahasan serius mengenai Regno De Pirada (Kerajaan Pirada). Ia meyakinkan bahwa Pirada yang dimaksud oleh Pires adalah Gampong Peurade, Panteraja, Pidie Jaya, yang dikenal saat ini.

Berkat catatan kaki yang ditambahkan oleh Cortesão dalam Suma Oriental, lokasi kawasan Kerajaan Pirada dapat dengan sangat mudah ditelusuri dan diukur melalui Google Maps—tentu setelah memastikan letak Aeilabu (Ie Leubeue) dan Ulim. Benar saja, lokasi tersebut mengarah tepat ke Gampong Peurade. Kata “Pirada” disebut sebanyak 13 kali dalam buku tersebut, baik dalam isi maupun di catatan kaki.

Selepas Jum’at, (1/8) lalu, saya bersama Hidayat Alkahar dalam perjalanan dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh. Kami menyempatkan diri untuk berhenti sejenak di Gampong Peurade, Panteraja, guna merekam citra udara. Kami memilih titik lepas landas di lokasi makam bersejarah dengan nisan bertipologi Sumatra–Pasai.

Selain itu, di Kecamatan Pante Raja terdapat makam seorang tokoh penting dalam sejarah Aceh, tepatnya di Meunasah Hagu, yaitu Sultan Munawar Syah, putra Sultan Muhammad Lamury. Ia adalah kakek dari Sultan ‘Ali Mughayat Syah. (ZA)