
Oleh: Muhajirul Fadhli (Dosen Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
“Bukan banyak atau sedikitnya harta yang menentukan kebahagiaan seseorang, melainkan ada atau tidaknya keberkahan di dalamnya.”
Hampir setiap pagi kita menyaksikan pemandangan yang sama. Jalanan dipenuhi orang-orang yang bergegas menuju tempat kerja. Ada yang membuka toko, mengajar di sekolah, bekerja di kantor, bertani, melaut, atau memimpin sebuah lembaga. Mereka meninggalkan rumah dengan satu harapan yaitu mencari rezeki demi menghidupi keluarga dan menata masa depan.
Namun, dalam pandangan Islam, bekerja bukan sekadar tentang menghasilkan uang. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap rupiah yang diperoleh berasal dari jalan yang halal dan menghadirkan keberkahan. Sebab, tidak semua harta mampu mendatangkan ketenteraman.
Di sekitar kita, tidak sulit menemukan orang yang hidup berkecukupan, tetapi jauh dari rasa damai. Rumahnya megah, kendaraannya mewah, jabatannya tinggi, namun hidupnya dipenuhi kegelisahan. Sebaliknya, ada keluarga yang hidup sederhana, tetapi penuh kebahagiaan. Anak-anaknya tumbuh dengan baik, hubungan keluarga harmonis, ibadah terasa ringan, dan hati selalu diliputi rasa syukur. Perbedaan keduanya bukan semata-mata pada jumlah harta, melainkan pada keberkahan yang Allah titipkan di dalamnya.
Renungan ini terasa semakin terasa di tengah maraknya kasus korupsi yang terus menghiasi ruang publik. Berita tentang penyalahgunaan jabatan, suap, penggelapan anggaran, hingga praktik memperkaya diri dengan uang rakyat seakan tidak pernah berhenti.
Ironisnya, banyak pelakunya bukan orang yang kekurangan. Mereka telah memiliki gaji besar, fasilitas lengkap, dan kedudukan yang terhormat. Lalu mengapa masih tergoda mengambil sesuatu yang bukan haknya?
Persoalannya ternyata bukan terletak pada sedikit atau banyaknya harta, melainkan hilangnya keberkahan dan memudarnya rasa cukup dalam hati. Ketika keserakahan menguasai jiwa, sebanyak apa pun kekayaan tidak pernah terasa memadai. Jabatan tidak lagi dipandang sebagai amanah, melainkan kesempatan untuk memperkaya diri. Maka benarlah sabda Nabi Muhammad Saw “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah yang penuh dengan emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya selain tanah (yakni setelah ia meninggal dunia). Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.”
Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak mengkhianati amanah dan tidak memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Korupsi bukan hanya pelanggaran terhadap hukum negara, tetapi juga bentuk pengkhianatan kepada Allah dan masyarakat. Ia merampas hak orang banyak, merusak kepercayaan publik, sekaligus menghilangkan keberkahan dari harta yang dikumpulkan.
Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mencari rezeki, tetapi juga bagaimana menjaga agar rezeki tersebut tetap berkah dan bernilai ibadah. Syekh Abu Laits al-Samarqandi dalam kitabnya Tanbihul Ghafilin (halaman 166 cetakan Daar al-‘Ilm, Surabaya) memberikan lima nasihat yang hingga kini tetap relevan.
Pertama, jangan pernah mengorbankan kewajiban kepada Allah demi pekerjaan. Kesibukan mencari nafkah tidak boleh membuat seseorang melalaikan salat, zakat, ataupun kewajiban lainnya. Sebab, rezeki tidak datang karena kita bekerja tanpa henti, tetapi karena Allah membukakan pintunya.
Kedua, jangan menyakiti orang lain demi memperoleh keuntungan. Menipu pelanggan, mengambil hak pekerja, menerima suap, melakukan korupsi, atau merusak lingkungan demi keuntungan sesaat mungkin menghasilkan uang, tetapi tidak akan pernah melahirkan keberkahan. Rezeki yang baik adalah rezeki yang tidak dibangun di atas penderitaan orang lain.
Ketiga, luruskan niat dalam bekerja. Nafkah yang dicari untuk menjaga kehormatan diri, membahagiakan keluarga, dan beribadah kepada Allah akan bernilai ibadah. Sebaliknya, ketika tujuan bekerja hanya untuk menumpuk kekayaan dan mengejar gengsi, manusia akan terus dikejar rasa tidak pernah puas.
Keempat, bekerja keras bukan berarti mengorbankan seluruh kehidupan. Islam mengajarkan keseimbangan. Jangan sampai seseorang sukses mengumpulkan harta, tetapi gagal membangun keluarganya. Banyak orang mewariskan kekayaan kepada anak-anaknya, tetapi lupa mewariskan akhlak dan keteladanan.
Kelima, tanamkan keyakinan bahwa rezeki berasal dari Allah, sedangkan pekerjaan hanyalah ikhtiar. Jabatan, bisnis, dan pelanggan bukanlah pemberi rezeki. Semuanya hanyalah sebab yang Allah ciptakan. Kesadaran inilah yang membuat seseorang tetap rendah hati ketika berhasil dan tetap sabar ketika diuji.
Pada akhirnya, ukuran kesuksesan dalam Islam tidak pernah ditentukan oleh besarnya kekayaan. Yang menjadi ukuran adalah bagaimana harta itu diperoleh, bagaimana ia dimanfaatkan, dan sejauh mana ia mendekatkan pemiliknya kepada Allah. Sebab, ketika seseorang meninggalkan dunia, rumah, kendaraan, rekening, dan jabatan tidak akan ikut mengantarnya ke alam kubur. Yang tetap menyertainya hanyalah amal saleh.
Sudah saatnya orientasi hidup kita diubah. Jangan hanya bertanya, “Berapa banyak harta yang bisa saya kumpulkan?” Tetapi bertanyalah, “Apakah harta yang saya peroleh akan menjadi saksi yang meringankan atau justru memberatkan saya di hadapan Allah?”Sebab, rezeki yang cukup namun halal akan menghadirkan ketenangan yang tidak dapat dibeli oleh kekayaan sebesar apa pun. Sebaliknya, harta yang kehilangan keberkahan akan terus menuntut tambahan, tanpa pernah benar-benar menghadirkan kebahagiaan.


