
BANDA ACEH (BaiturrahmanFM)— Jamaah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh diajak mengambil pelajaran dari empat nasihat penting yang disebut terdapat pada tongkat Nabi Musa AS. Nasihat tersebut berkaitan dengan kepemimpinan, ilmu, kekayaan, serta kesabaran dalam menghadapi kehidupan.
Pesan itu disampaikan Abi Teuku Rizki Ramadhan, Pimpinan Dayah Tarbiyatul Abrar Al-Amiriyah Banda Aceh, dalam khutbah Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, Jumat, 12 September 2026.
Dalam khutbahnya yang merujuk pada Kitab Madarijus Su’ud halaman 31, Abi Teuku Rizki Ramadhan mengawali dengan kisah mengenai sejumlah benda yang disebut diturunkan bersama Nabi Adam AS ketika diturunkan dari surga, di antaranya Hajar Aswad, cincin Nabi Sulaiman AS, bukhur, pohon buah tin, dan tongkat Nabi Musa AS.
Menurutnya, tongkat Nabi Musa AS merupakan salah satu mukjizat yang Allah SWT berikan sebagai tanda kenabian. Dalam riwayat yang disampaikan dalam khutbah tersebut, tongkat itu memiliki nama “Zaidah”, berukuran sekitar 10 zira’, mempunyai dua cabang, dan disebut dapat bercahaya dalam kegelapan.
Namun, kata dia, yang lebih penting untuk direnungkan adalah empat nasihat yang disebut tertulis pada tongkat tersebut.
1. Pemimpin yang tidak adil disamakan dengan Fir’aun
Nasihat pertama berbunyi:
كُلُّ سُلْطَانٍ لَا يَعْدِلُ فِي سُلْطَانِيَّتِهِ هُوَ وَفِرْعَوْنُ سَوَاءٌ
Artinya, setiap pemimpin atau penguasa yang tidak berlaku adil dalam kepemimpinannya, maka ia dan Fir’aun dianggap sama.
Abi Teuku Rizki menjelaskan bahwa pesan tersebut berlaku bagi setiap pemimpin, baik di tingkat desa, kecamatan, daerah, maupun pemerintahan yang lebih tinggi.
Menurutnya, ketika seorang pemimpin tidak berlaku adil, menzalimi masyarakat dan membuat rakyat menderita, maka kepemimpinannya memiliki karakter yang sama dengan kezaliman Fir’aun.
“Jadilah pemimpin yang adil, yang bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya,” pesannya kepada jamaah.
Dalam khutbah tersebut juga dijelaskan bahwa Fir’aun bukan merupakan nama pribadi, melainkan gelar bagi raja Mesir pada masa itu. Sebagaimana raja Persia dikenal dengan sebutan Kisra, raja Romawi disebut Kaisar, dan penguasa Habasyah disebut Najasyi.
Nama Fir’aun yang disebut dalam Kitab Tafsir Jalalain adalah Al-Walid bin Mush’ab bin Rayyan. Dalam Jam’ul Fawaid juga disebutkan sejumlah kisah mengenai perjalanan hidup Fir’aun hingga menjadi seorang raja dan kemudian mengaku sebagai Tuhan.
Fir’aun bahkan mengatakan:
أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”
Abi Teuku Rizki kemudian mengutip keterangan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin yang menjelaskan bahwa kesombongan Fir’aun salah satunya dikaitkan dengan panjangnya masa kesehatan dan kenikmatan yang ia rasakan.
“Sesungguhnya yang menyebabkan Fir’aun sampai berani mengatakan, ‘Aku adalah Tuhan kalian yang Maha Tinggi’, adalah karena ia mengalami masa sehat dalam hidupnya yang begitu lama.”
Keterangan tersebut terdapat dalam Ihya’ Ulumuddin jilid 4 halaman 289.
Pesannya, kesehatan, kekuasaan dan berbagai kenikmatan dunia tidak seharusnya membuat manusia lupa bahwa seluruhnya merupakan pemberian Allah SWT.
2. Orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya disamakan dengan Iblis
Nasihat kedua berbunyi:
كُلُّ عَالِمٍ لَا يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ هُوَ وَإِبْلِيسُ سَوَاءٌ
Artinya, orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya disamakan dengan Iblis.
Abi Teuku Rizki mengingatkan jamaah bahwa ilmu tidak cukup hanya untuk diketahui, tetapi harus diwujudkan dalam amal dan akhlak.
Ia kemudian mengangkat kisah Iblis yang dalam penjelasan khutbah disebut pernah menjadi ahli ibadah, namun seluruhnya berakhir dengan kesombongan ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam AS.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 34:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.”
Menurutnya, kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa ilmu dan ibadah dapat kehilangan makna ketika tidak disertai ketundukan, amal dan adab.
“Jangan hanya menjadi orang yang mengetahui banyak hal, tetapi tidak mengamalkan apa yang diketahui,” pesan yang ditekankan dalam khutbah tersebut.
3. Orang kaya yang tidak memanfaatkan hartanya disamakan dengan Qarun
Nasihat ketiga berbunyi:
كُلُّ غَنِيٍّ لَا يَنْتَفِعُ بِمَالِهِ هُوَ وَقَارُونُ سَوَاءٌ
Artinya, orang kaya yang tidak memanfaatkan kekayaannya disamakan dengan Qarun.
Abi Teuku Rizki mengingatkan jamaah bahwa harta bukan sekadar kenikmatan, tetapi juga amanah dan tanggung jawab.
Ketika Allah SWT memberikan kemudahan rezeki dan ekonomi, seorang muslim dianjurkan untuk bersedekah, menunaikan zakat dan memanfaatkan hartanya untuk kebaikan.
“Semakin kita kaya raya dan semakin banyak harta yang kita miliki, semakin besar pula tanggung jawab yang harus kita pertanggungjawabkan,” katanya.
Ia menggambarkan harta seperti racun yang dapat membinasakan apabila tidak digunakan dengan benar. Karena itu, salah satu penawarnya adalah memperbanyak sedekah dan menunaikan zakat.
Dalam khutbah tersebut juga disampaikan sebuah ungkapan orang tua Aceh:
“Bak peng tubit tebingong-ngong, bak peng tamong rumeh muka.”
Kisah Qarun kemudian dijadikan contoh mengenai bahaya kecintaan berlebihan terhadap harta.
Qarun dikenal sebagai sosok yang memiliki kekayaan besar. Namun, kekayaan tersebut tidak membuatnya semakin dekat kepada Allah. Kisahnya kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai pelajaran bagi umat manusia.
Menurut Abi Teuku Rizki, dari harta yang dimiliki seseorang terdapat tanggung jawab sosial yang tidak boleh diabaikan, termasuk kewajiban zakat dan kepedulian terhadap fakir miskin.
Ia juga mengingatkan bahwa keberkahan harta bukan hanya diukur dari jumlahnya, tetapi dari bagaimana harta tersebut digunakan dan memberikan manfaat bagi orang lain.
“Di antara sekian banyak harta yang kita miliki, terdapat hak fakir miskin di dalamnya,” ujarnya.
4. Orang fakir yang tidak bersabar disamakan dengan anjing
Nasihat keempat berbunyi:
كُلُّ فَقِيرٍ لَا يَصْبِرُ عَلَى فَقْرِهِ هُوَ وَالْكَلْبُ سَوَاءٌ
Artinya, orang fakir yang tidak bersabar atas kefakirannya disamakan dengan anjing.
Abi Teuku Rizki menjelaskan bahwa kemiskinan bukan alasan untuk kehilangan kesabaran dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Menurutnya, setiap keadaan memiliki ujian dan hikmahnya masing-masing. Orang yang memiliki keterbatasan harta, misalnya, tidak memiliki beban pertanggungjawaban harta sebanyak orang kaya.
Ia juga menyampaikan keterangan bahwa orang miskin yang bersabar akan memperoleh keutamaan dalam proses hisab dan dapat masuk surga lebih dahulu dibandingkan orang kaya.
Dalam khutbah tersebut disebutkan bahwa orang miskin yang sabar akan masuk surga 500 tahun lebih dahulu daripada orang kaya.
Namun, inti pesan yang ditekankan bukanlah kemiskinan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, melainkan pentingnya kesabaran, keteguhan dan rasa syukur ketika menghadapi keterbatasan.
Abi Teuku Rizki mengingatkan agar seseorang tidak kehilangan martabat dan kesabaran hanya karena keadaan ekonomi.
Empat pesan untuk kehidupan
Menutup khutbahnya, Abi Teuku Rizki Ramadhan mengajak jamaah untuk menjadikan empat nasihat tersebut sebagai bahan introspeksi dalam menjalani kehidupan.
Pertama, jadilah pemimpin yang adil.
Kedua, jadilah orang alim yang mengamalkan ilmunya.
Ketiga, jadilah orang kaya yang mau berbagi dan menunaikan zakat.
Keempat, jadilah orang yang sabar dan bersyukur atas segala ketentuan Allah SWT.
“Mudah-mudahan khutbah singkat yang khatib sampaikan tadi menjadi motivasi bagi kita semua agar menjalani kehidupan di dunia ini dengan penuh keberkahan dan penuh makna,” demikian pesan penutup Abi Teuku Rizki Ramadhan.
Khutbah kemudian ditutup dengan doa dan kalimat:
وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ
Wabillahit taufiq wal hidayah.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


