
BANDA ACEH (Baiturrahman— Dayah di Aceh tidak hanya berhadapan dengan perubahan zaman, tetapi juga dihadapkan pada sebuah pilihan penting: tetap bertahan dengan tradisi atau berani bertransformasi tanpa kehilangan jati diri.
Persoalan tersebut menjadi bahasan utama dalam program “Perbincangan Sabtu Pagi” Radio Baiturrahman pada Sabtu, 8 Agustus 2026, dengan mengangkat tema “Dayah di Persimpangan Zaman: Menjaga Tradisi, Menjemput Transformasi.”
Talkshow yang berlangsung selama 30 menit tersebut menghadirkan Ustaz Juniazi Yahya, Pemimpin Redaksi Tabloid Gema Baiturrahman, dan Abu Sayed Muhammad Husen, Redaktur Senior Gema Baiturrahman. Perbincangan dipandu oleh Irfan Maulana sebagai host.
Mengawali perbincangan, pembahasan diarahkan pada posisi strategis dayah dalam perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Aceh. Dayah sejak dahulu tidak hanya menjadi ruang pendidikan agama, tetapi juga menjadi tempat pembentukan karakter, pusat keilmuan, serta salah satu pilar penting dalam menjaga identitas dan nilai-nilai keislaman masyarakat Aceh.
Namun, perubahan sosial, perkembangan teknologi, digitalisasi, dan tuntutan kompetensi global membuat dayah menghadapi tantangan baru.
Dalam diskusi tersebut, transformasi dayah dipandang bukan sebagai upaya meninggalkan tradisi, melainkan sebagai ikhtiar untuk memastikan nilai-nilai luhur yang diwariskan para ulama tetap mampu menjawab kebutuhan zaman.
Tradisi dan transformasi pun bukan dua kutub yang harus dipertentangkan.
Tradisi menjadi akar yang menjaga identitas, sementara transformasi menjadi langkah agar dayah mampu tumbuh dan menjangkau masa depan.
Salah satu isu penting yang mengemuka adalah bagaimana dayah dapat mempertahankan kekuatan kitab kuning dan khazanah turats, sekaligus membekali santri dengan kemampuan teknologi digital, literasi, bahasa, kewirausahaan, serta keterampilan lain yang dibutuhkan di tengah kompetisi global.
Santri masa kini, dengan demikian, tidak cukup hanya memiliki kedalaman ilmu agama. Mereka juga dituntut memiliki kemampuan membaca perubahan, memanfaatkan teknologi, dan berkontribusi di tengah masyarakat tanpa kehilangan karakter dan adab sebagai seorang santri.
Transformasi juga tidak semata-mata berbicara tentang penggunaan teknologi. Lebih luas dari itu, transformasi menyentuh cara berpikir, sistem pendidikan, pengembangan kurikulum, penguatan manajemen dayah, kemandirian ekonomi, hingga kemampuan membangun jejaring dengan berbagai pihak.
Di sinilah tantangan terbesar dayah: bagaimana bergerak maju tanpa tercerabut dari akar.
Perbincangan juga menyoroti pentingnya peran masyarakat dan pemangku kebijakan dalam mendukung perkembangan dayah. Modernisasi dayah membutuhkan ekosistem yang kuat, bukan hanya dibebankan kepada pengelola dan para santri.
Dayah perlu diberi ruang untuk berkembang, berinovasi, dan menjawab kebutuhan generasi baru, namun tetap berada dalam koridor nilai keislaman dan karakter khas Aceh.
Dari perbincangan tersebut, satu pesan penting terasa kuat: dayah tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan zaman.
Dayah harus mampu menjadi bagian dari perubahan, bahkan jika memungkinkan menjadi salah satu pengarahnya.
Sebab, mempertahankan tradisi tidak berarti menolak kemajuan. Sebaliknya, menjemput transformasi juga tidak berarti harus meninggalkan warisan ulama.
Dayah harus tetap berakar pada turats, kokoh dalam adab, tetapi terbuka terhadap ilmu dan teknologi.
Dengan demikian, santri tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi generasi yang memahami masa lalu, tetapi juga generasi yang mampu membaca masa depan.
Talkshow “Perbincangan Sabtu Pagi” tersebut menjadi ruang refleksi bahwa masa depan dayah di Aceh bukan tentang memilih antara tradisi atau transformasi.
Melainkan tentang menemukan cara agar tradisi tetap menjadi akar dan transformasi menjadi jalan untuk tumbuh.
Karena dayah yang kuat bukanlah dayah yang takut pada perubahan, tetapi dayah yang mampu berubah tanpa kehilangan arah.


