
Makassar-Di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui sepeda motor, di antara deretan rumah-rumah rapat yang berdiri di Jalan Kelapa Tiga, Pettarani, Makassar, hidup seorang gadis dengan mimpi yang besar. Namanya Dinianti Marthen, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Hasanuddin (Unhas). Gadis yang biasa disapa Dini ini, merupakan penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah 2025.
Rumah Dini sangat sederhana, berlantai dingin, dengan ruangan terbatas, dan ketika hujan deras, air kerap naik hingga memenuhi bagian depan rumah. Namun dari sinilah tumbuh seorang anak yang selalu menjaga harapan untuk tetap hidup, bahkan ketika segala sesuatu terasa menghimpit.
Dini tumbuh di lingkungan yang keras, penuh keterbatasan, tetapi tidak pernah kehilangan cahaya dalam dirinya. Sejak kecil ia dikenal sebagai anak yang tidak pernah menyerah pada keadaan. Ia terbiasa memindahkan barang ke tempat tinggi setiap kali banjir datang, membersihkan rumah selepas air surut, dan kembali belajar seolah tidak terjadi apa-apa.
Di tengah kesibukan hidup yang serba tidak pasti, Dini menemukan pelarian sekaligus kekuatannya: menyanyi. Suaranya menjadi hiburan untuk keluarga dan tetangga, dan menjadi cara untuk membuat ibunya tersenyum setelah seharian bekerja. Dari panggung kampung hingga lomba tingkat sekolah, suara Dini perlahan menjadikan namanya dikenal oleh kalangan luas. Ia mungkin tidak punya alat musik bermerek, tetapi ia punya tekad yang tidak kalah kuat, dibandingkan penyanyi profesional.
Prestasinya dalam menyanyi tumbuh berdampingan dengan mimpinya untuk menjadi seorang dokter. Di tengah keterbatasan, ia semangat mengeksplorasi hal-hal yang berkaitan dengan kedokteran.
“Awalnya saya tidak direstui oleh ibu untuk kuliah kedokteran karena tidak yakin untuk bisa membayar biaya, namun saya terus meyakinkan ibu, bahwa saya bisa dengan beasiswa,” jelas Dini gemetar.
Langkah ke Fakultas Kedokteran Hewan
Ketika kelulusan SMA mendekat, Dini tahu bahwa mimpi kuliah adalah sesuatu yang hampir mustahil secara finansial. Ibunya bekerja serabutan, mereka masih mengontrak rumah yang sama selama bertahun-tahun. Hambatannya ketika menempuh sekolah tak hanya banjir, namun juga biaya pendidikan.
Tapi Dini tidak menyerah. Ia belajar keras, mengoleksi sejuta prestasi, dan mencoba setiap peluang yang ada. Ketika pengumuman KIP Kuliah 2025 dirilis, ia membuka ponselnya dengan gemetar. Di layar terpampang kalimat yang tidak akan pernah ia lupakan: “Selamat, Anda Lolos”. Kala itu, di rumah kontrakan yang temaram setelah hujan semalaman, suara tangis bahagia Dini dan ibunya memenuhi ruangan. Untuk pertama kalinya, masa depan terasa tidak lagi jauh.
Dengan bantuan program KIP Kuliah, ia resmi menjadi mahasiswa Kedokteran Hewan di Unhas sebuah mimpi yang dulu hanya bisa ia bisikkan pada dirinya sendiri. Tempat tinggal Dini mungkin sederhana, namun ia tumbuh menjadi seseorang yang memiliki mimpi besar. Ia adalah bukti bahwa mimpi tidak harus lahir dari rumah gedongan, tetapi dari hati dan semangat yang tidak pantang putus. Kini Dini menapaki jalan panjang perlahan namun pasti.
Apresiasi Kemdiktisaintek
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie dalam lawatannya ke Makassar, menyampaikan dukungan terhadap mahasiswa penerima KIP Kuliah.
Wamen Stella mengunjungi Dini dan keluarga. Wamendiktisaintek menuturkan bahwa program KIP Kuliah merupakan bagian dari agenda strategis untuk mengurangi kesenjangan akses pendidikan.
“Kami akan mencari solusi berkelanjutan, karena kondisi sosial ekonomi mahasiswa berpengaruh langsung terhadap kualitas belajar mereka,” kata Wamen Stella.
Wamendiktisaintek menambahkan bahwa dukungan seperti ini adalah bentuk investasi jangka panjang bagi peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia. Wamen Stella juga mendorong mahasiswa untuk aktif menggali potensi dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan akademik di kampus.
“Selama kuliah, banyak sekali kesempatan yang bisa dimanfaatkan. Mahasiswa harus cermat melihat peluang dan berani mengambil peran,” ujar Wamen Stella.
Di akhir kesempatan, Wamen Stella menyerahkan satu unit laptop, untuk menunjang aktivitas akademik agar Dini semakin semangat dan berprestasi.(*)
*Sumber : kemdiktisaintek.go.id


